“Negeri ini tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang di hutan, gunung dan lautan”
Sir Henry Dunant
31 Desember 2012
pukul 23.00
Suhu malam itu begitu dingin menusuk, berapa pastinya tidak tahu, tapi cukup untuk membuat kami berfikir ulang untuk melakukan summit. Dengan baju, kaus kaki dan sepatu yg basah ,timbul keraguan untuk melanjutkan pendakian sampai puncak. Saat itu, badanku sendiri cukup kuat, mengingat diantara kita berempat, aku lah yang memiliki suhu tubuh paling stabil. Tapi bukan itu, sesusai janji kami sebelum mendaki, bahwa kami semua datang kesini bersama sama, untuk mendaki bersama, maka dalam kebersamaan pula kita memutuskan, jika satu orang tidak mampu, maka yang lain pun akan menemani dan bersama sama menunda puncak. Ah, itulah nikmatnya punya sahabat seperti mereka. Bahwa sesendiri apapun, pada akhirnya kita tidak akan pernah sendiri dalam sebuah perjalanan.
Kalimati malam itu benar benar seperti namanya, dan “dingin” datang seperti ribuan pasukan perang romawi, berjejer rapi di setiap jengkal tanah yang tersisa. Aku bergidik membayangkan setelah ini, bahkan sebelum puncak pun seperti ini, apalagi nanti. Aku benar benar berada di antah berantah, sepanjang penglihatan hanya ada pepohonan yang kelam, langit, dan alam yang tampak tenang namun mematikan. Tapi bukankah ini esensi kita berkehidupan ? Sesekali kelam harus hadir dalam hidup, agar dapat mensyukuri tiap hangat yg merayap di linimasa.
Kami sempat mengurungkan niat untuk summit , kecewa memang, tapi kekecewaan itu tidak berlangsung lama. Setelah kami melihat teman teman yang lain, yg memiliki kondisi tidak lebih baik dari yang kita alami. Dalam keterbatasan mereka tetap memutuskan merengkuh mahameru. Pada saat itu, pikiran kami berkecamuk, bingung, tapi terima kasih Tuhan, karena dengan begitu, kami pada akhirnya memutuskan untuk melepas segala batas ketidakmampuan kami. Menekan ribuan partikel “takut” yang ada di dalam darah kita.
“Takut, bukan kekurangan cuk. Takut itu bentuk lain rendah hati yang belum dilatih sebaik keberanian. Takutlah, dengan begitu kamu jadi mawas diri, melangkah dengan penuh perhitungan tapi tidak hitung hitungan. Semua petualang haruslah memiliki takut, karena dengan begitu dia bisa tetap membumi, tidak angkuh. “
Kakek selalu menasihati seperti itu, dan kini nasihat sederhana yang selalu kakek bicarakan dalam sesi “Kakek dan Cucuk” betul betul berguna. Terimakasih cuk. *dikeplak kakek*.
01 Januari 2013
pukul 00.00
Ditengah hiruk pikuk para pendaki yang berurutan menunggu giliran mensetubuhi punggung semeru, terdengar letusan kembang api yang dibawa oleh beberapa pendaki, disitulah pertama kali dalam hidup kami, dalam keheningan, dibalut dingin yg menusuk tulang, kami merasakan pergantian tahun diketinggian 2700 meter diatas permukaan laut. Benar benar berlawanan dengan pergantian tahun biasanya yg dilingkupi hingar bingar perkotaan, pergantian tahun saat itu, begitu dalam membekas di hati kami.
Perjalanan kami lanjutkan, dari pos kalimati menuju mahameru adalah medan pendakian yg sesungguhnya, “tidak ada ampun” kata para amatir sepertiku.
Sebelum sampai dibatas vegetasi di cemoro tunggal, kami harus melewati arcopodo, untuk menuju arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu.
Arcopodo adalah nama grup kami, dan entah mengapa ada perasaan “Home” disana. Padahal arcopodo begitu asing bagiku, ini pertama kalinya aku menjejaki tanahnya. Disini salah seorang teman, kakak, uni kami tersayang ternyata berulang tahun. Indah sekali bukan. Diketinggian, disebuah “rumah”, dalam pergantian tahun, diantara sahabat dia merayakan hari jadinya dilahirkan disini. “Semoga semakin dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi sesama ya mba’ Sandra, sekecil dan sesederhana apapun itu”.
Disini, kami juga dapat berkemah, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam pendakian normal, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Disini oksigen semakin menipis, sehingga menyulitkan untuk bernafas dan cepat sekali capai. Dari bawah tampak sebarisan cahaya headlamp menghiasi perjalanan menuju puncak. Kami mendaki pasir semeru dengan 3 langkah maju kemudian merosot turun 2 langkah kebawah.
Pukul 2 pagi kami sudah di bagian bawah lereng semeru, dalam perjalanan menuju puncak, serangan kantuk begitu besar, mata betul betul berat, namun kami tidak diperkenankan untuk tidur, selain karena kita sedang berada di lereng dengan kemiringan 70 derajat, dengan tidur maka tubuh kehilangan kemampuan menghangatkan diri, dan terancam hypothermia. Kami terus melangkah dengan sesekali istirahat, istirahat kami pun tidak boleh lebih dari 2 menit, karena tubuh akan menjadi dingin jika terlalu lama beristirahat. Itu teorinya sih, kenyataannya sampai bikin coakan di pasir buat tidur beberapa menit. Ha.
Disinilah mental diuji, suhu yg dingin, pakaian yg basah, medan yg sangat berat, serangan kantuk, ditambah angin gunung yg berhembus menambah dingin tubuh, waktu itu rata rata kami menggunakan jaket 2 lapis bahkan ada yg sampai 3 lapis, tapi dingin tetap menusuk. Selain mental disini juga dilatih kepemimpinan dan kesetiakawanan, dengan medan yg berat, kita saling memberikan semangat, saling mengulurkan tangan, membantu mendorong teman yg kesulitan, berbagi minuman hangat, saling mengingatkan agar tidak tertidur.
Hal yang paling membuatku betul betul menghargai “The Best present of this life” ya saat itu. Dalam kemampuannya yg lebih, andri enggan meninggalkanku dilereng, dia bergerak di depanku, sesekali menengok kebelakang, memastikan aku tidak tertinggal, mengulurkan tangan, memberikan semangat. Bisa saja dia menginggalkan aku, tapi entahlah, dia memilih menungguiku.
Mungkin begitu hidup mengajarkan, kita ini makhluk sosial, sesendirinya sifat seseorang, dia tetap membutuhkan orang lain, paling tidak untuk dapat merasa dibutuhkan.
Tidak beberapa lama, fajar mengintip dibalik lereng semeru, ada haru yang diam diam datang, ada hangat yang tiba tiba hadir. Kesyukuranku terbesar saat itu adalah tentang matahari, dan sahabat. Tentang lelah yang menguap, tentang perjalanan ini. Untuk sejenak aku berdoa, berterimakasih pada Sang Pencipta, atas semua. Atas hidup ini, satu lagi hal indah datang mewarnai hidupku. Dan semoga kelak aku tidak termasuk hambaNya yang mendustakan nikmat. Terima kasih Tuhan. Mesra sekali caraMU mencumbui kami pagi itu.
Setelah kami mencapai ketinggian 2/3 dari lereng, andri mendorong tubuhku, dia mendorongku agar bisa segera mencapai puncak. Mengingat setelah ini sang surya meninggi, dan bisa saja bukan hangat lagi yang datang, tapi panas yg merajai. Dia mendorongku hingga jarak beberapa langkah sebelum puncak, dan melepaskanku. “Kini saatnya dengan kakimu sendiri kau melangkahi puncak kawan, Tugasku hanya sampai sini, selebihnya dengan sisa tenagamu, sisa semangatmu, aku tunggu diatas sana”. Oke, sedikit lebay memang adegannya, tapi itu kira kira bahasa yang Andri ucapkan dalam nafas yang menderu kepayahan.
Andri, Adi, Ibnu menunggu dipuncak yang hanya berjarak 10 langkah didepan. Aku berjalan terseok seok, mengutuki diri karena tidak pernah meatih fisik, hingga langkah terakhir….
And Finally…

(gambar diambli dari http://coretanlepas.wordpress.com/2012/11/20/mahameru/ )
Langkah terakhir aku tutup dengan bersujud, tanda syukur paling akbar terhadap keagungan dan ridho pencipta semesta.
Di ketinggian 3676 mdpl tersebut semua pengorbanan terbayar lunas, walau akhirnya tidak lama kemudian puncak tertutup kabut tebal. Tidak menyurutkan kebahagiaan kami, kami saling berpelukan, terharu rasanya bisa berdiri disana dengan perjuangan yg berat, bahkan ada diantara kami yg tanpa sadar menitikan air mata.
Disitulah puncak kebahagiaan, kami sadar bahwa puncak sesungguhnya bukan diatas sini, tapi di hati kami semua. Bukan gunung yg kami taklukan, tapi diri kami sendiri yg kami taklukan. Disanalah kita kembali menjadi manusia utuh, kembali menjadi pribadi yg saling membutuhkan, tidak egois, karena dengan mendaki maka sifat dan karakter masing masing orang akan terlihat. “Berbagilah waktu dengan alam, maka kau akan mengetahui siapa sebenarnya dirimu” - Soe Hok Gie
Dari situ kami kembali berkaca, betapa peradaban telah membuat kita menjadi manusia yg serakah, betapa harta, tahta dan wanita itu semua membutakan mata hati kita. karena ternyata sejatinya alam ada adalah untuk memanusiakan kembali manusia, dan menghapus sisa sisa kebiadaban peradaban. Tuhan terima kasih atas nikmat yg tak tergantikan ini. Kelak kami akan kembali mendaki gunung gunung lain, semakin mengasah diri, mempersiapkan jiwa untuk menjadi pemimpin diri sendiri. Kami mendaki, bukti bahwa kami cinta negeri ini.
“Negeri ini tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang di hutan,gunung dan lautan”. Semoga kita bisa menjadi pemimpin yg bijak di masa depan, untuk diri sendiri, maupun untuk negeri ini. Karena sejatinya kepemimpinan yang baik adalah bukan berbicara tentang bagaimana kita memimpin tapi bagaimana kita ikhlas dipimpin. Disini kita diajarkan semua, dipimpin dan memimpin.
Setelah ini puncak mana lagi ? biar takdir yang menentukan. Paling tidak, aku akan terus melangkah hingga aku benar benar tidak sanggup lagi melangkah.
Salam dari kami berempat.
Dari 3676 mdpl.
END